ARTIKEL

OLEH-OLEH DARI KOLKATA

Beberapa hari sebelum penulis bertolak ke India untuk mengikuti perhelatan perfilman dokumenter di Kolkata, berbagai surat kabar memberitakan jatuhnya pesawat tempur India yang ditembak aparat keamanan Pakistan, peristiwa itu menjadi trending topic di setiap televise dan obrolan warung kopi di Kolkata. 

Bersamaan saat saya hadir di Kolkata, saya membaca kabar dari Indonesia  seorang politisi yang merupakan sekjen sebuah partai politik tertangkap aparat kepolisian karena kedapatan menggunakan narkotika jenis Sabu. Kasus tersebut mencuat ke permukaan sebagao trending topic dunia maya dan menjadi perhatian beberapa kawan di luar Indonesia. 

Seorang kawan dari India menanyakan kebenaran kabar itu di sudut coffee shop yang berada di area Goethe Istitute Kolkata, tempat dimana perhelatan Docedge diselenggarakan. Saya mengiyakan kebenaran atas terjadinya peristiwa tersebut, saya sampaikan pula bahwa di grup-grup WA dan social media berita itu telah tersebar. 

Namun lebih dari itu saya tak punya bahan untuk menjelaskan lebih banyak, karena saya tidak banyak tahu tentang kasus yang terjadi dan memilih fokus pada kegiatan workshop dan pitching forum yang saya ikuti di Docedge.

Docedge Kolkata merupakan pertemuan potensi-potensi filmmaker dokumenter bertaraf internasional,  penulis bersyukur mendapatkan undangan sebagai salah satu peserta. 

Perhelatan ini menjadi titik pertemuan filmmaker dari berbagai negara Asian. Para peserta datang dari India, Indonesia, Nepal, Korea Selatan, Bangladesh, Myanmar, Philipina, dan Armenia.

Docedge Kolkata sangat penting sebagai  wadah komunikasi sesama filmmaker, produser, distributor, dan pegiat festival film.  Di dalam pertuan demi pertemuan, pembahasan  mengenai situasi dunia internasional hari ini dibicarakan melalui film dokumenter.

Setiap peserta yang hadir membawa cerita dari negara masing-masing mendapat kesempatan untuk bertemu dan mematangkan gagasan bersama tutor-tutor yang didatangkan dari berbagai negara Eropa dan juga Asia seperti; Jepang, Korea Selatan, india, dan Cina. Pengalaman ini tentunya akan bermanfaat bagi filmmaker untuk meningkatkan kemampuan teknis, skill, dan berjejaring dalam upaya memperkuat kerjasama di ranah perfilman dokumenter global.

Para peserta mengikuti kelas untuk belajar bersama mematangkan gagasan dalam suasana yang santai dan bernuansa persahabatan. Setiap peserta digolongkan dalam beberapa grup. Di setiap grup, para peserta menyampaikan gagasan masing-masing yang berangkat dari sinopsis dan struktur film yang telah mereka persiapkan sebelumnya.

Di dalam kelas para peserta dan para tutor yang terdiri dari; sutradara, produser, editor, penulis, penata kamera senior di bidang film dokumenter itu mengkaji dan mematangkan cerita bersama-sama.

Semua kegiatan yang terjadi di kelas merupakan tahapan yang sangat penting bagi para peserta yang dapat belajar langsung dengan para tutor yang sudah berpengalaman. Para peserta diharapkan dapat memahami bagaimana cerita mereka dapat diterima oleh publik global. 

Cerita dari Timur ( Baca: Asia ) seringkali tidak mudah dipahami oleh mereka yang berada dibarat. Dalam hal ini film harus dapat menjelaskan dengan gambling mengenai keterangan geografis, siapa fokus subyek utamanya, detail-detail cerita terkait dengan protragonis dan antagonis, detail permasalahan yang diangkat ke dalam film sangat perlu disampaikan untuk menjembatani narasi para story teller di ruang apresiasi penonton.

Inilah yang merupakan manfaat penting dari diskusi para peserta dengan para tutor yang diharapkan menjadi referensi bagi peserta untuk  memperkuat cerita yang kelak dapat dipahami oleh publik global dari berbagai latar belakang kultur, geografis, dan sosial.

Selama lima hari para peserta berada dalam kawah candradimuka kelas tutorial bersama mentor menggodog setiap potensi naratif serta menguasai teknis pitching untuk mempersiapkan presentasi cerita di depan panelis yang terdiri dari  para pegiat festival film internasional, agensi-agensi pendanaan film, Lembaga Non Pemerintahan, pelaku pertelevisian, dan distributor.

Sebagai contoh beberapa panelis merupakan pegiat festival paling bergengsi seperti Sundance, DMZ Korea Selatan, Belanda, Jerman, Cina, India dan Asia Pasifik.

Mereka bekerja keras selama lima hari di balik laptop masing-masing dan di kelas untuk memperbaiki kualitas bercerita,  membuat teaser dan merevisi subtitle yang diperlukan. 

FILM, OPIUM, DAN POLITIK

Terdapat 24 proposal film yang terseleksi dalam perhelatan Docedge Kolkata 2019. Masing-masing diantaranya memiliki karakter cerita yang berbeda-beda. Tema film terdiri dari berbagai fokus, antara lain; tema sosial, politik, pertanian dan ekonomi, imigran, sejarah, pendidikan, perempuan, keluarga, lingkungan hidup, drugs, dan konflik perbatasan antar negara. 

Beberapa peserta membawa kisah tentang dampak konflik di India-Pakistan atau India-Bangladesh terhadap imigran dan keluarganya, tentang situasi sebuah keluarga di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara yang kehilangan banyak hal dalam sejarah hidup mereka, tentang penduduk desa menghadapi keterbatasan di musim dingin di Nepal, geliat masyarakat miskin di perkotaan di Kolkota, perempuan korban kekerasan dalam ranah relasi sosial, situasi lingkungan hidup Penyu di kepulauan Andaman, atau petani opium di India yang tengah mengalami pancaroba serta kekawatiran karena harga yang jatuh di pasar gelap dapat mengancam keberlanjutan masa depan ekonomi mereka.

Dari semua film yang dipresentasikan, film berjudul I, Poppy yang dikerjakan oleh sutradara Vivek Chaudhary dari India menjadi film yang paling banyak mendapatkan penghargaan baik dukungan finansial maupun dukungan teknis dari berbagai lembaga film fund yang menghibahkan pembiayaan bagi film tersebut.

I, Poppy merupakan film yang akan menceritakan tentang seorang ibu, petani yang sejak masa leluhurnya telah menanam  opium merasakan kekawatiran akan kehilangan lisensi pertanian yang karena polemik yang terjadi di birokrasi dan masyarakat, dalam situasi itu ia berhadapan dengan putranya sendiri yang kegiatannya menantang Departemen Narkotika yang sangat korup.

Selain I, Poppy, sebuah film karya sutradara perempuan asal Philipina dan partnernya dari Korea Selatan, Babby Ruth Villarama dan Carlo Joel Gutierrez juga mendapatkan perhatian dari para panelis. 

Film mereka berjudul Touch Colour  tersebut menceritakan tentang dua saudara perempuan pelaku penculikan di dalam penjara. Setelah 18 tahun berada dalam penjara, pembebasan bersyarat ditawarkan jika hanya ibu anak laki-laki yang diculik itu yang memaafkan mereka.

Dari negeri Tiongkok, delegasi film festival dan pegiat film industri hadir untuk mempresentasikan festival-festival yang diselenggarakan di beberapa kota di Tiongkok. Satu di antaranya adalah West Lake International Documentary Film Festival yang diselenggarakan setiap bulan Oktober di Hangzhou.

Dari presentasi delegasi Tiongkok itu, para peserta mendapatkan wawasan baru mengenai perkembangan perfilman di Tiongkok yang menambah potensi penghubung strategis bagi kalangan perfilman dokumenter global terutama bagi mereka yang berasal dari Asia untuk mendapatkan ruang apresiasi, distribusi, yang lebih luas.

Dari Docedge Kolkata penulis dapat merasakan manfaat dari perwujudan film dokumenter bukan lagi sekedar sebagai media komunikasi visual dan informasi antara pembuat filmnya dengan audiens, bukan pula sebagai media propaganda ansich melainkan dapat menjadi media kajian ilmiah dan estetik terhadap realitas geo politik, geo ekonomi dan sosial, serta menjadi pisau bedah analisis mengenai apa yang sedang dihadapi umat manusia hari ini dan masa depan. Dalam situasi Indonesia yang tengah giat membangun, film dokumenter mampu menjadi media indikator pembangunan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kebijakan, baik legislatif maupun eksekutif.

Mengingat tantangan masyarakat di era digital saat ini hidup bersamaan dengan derasnya arus informasi, setiap detik  dijejali berbagai berita bahagia dan duka dari seluruh kehidupan di permukaan bumi ini. Batas-batas kebenaran dan kepalsuan informasi berpotensi  lumer dan sumir, setiap orang dapat memproduksi dan mereproduksi  “realitas” yang dapat berpengaruh pada situasi sosial, ekonomi, politik, baik lokal, regional, maupun global.

Sering kita dengar dan baca tentang berita hoax, berita yang disebarkan tanpa memiliki akurasi data dan fakta, atau hanya untuk tujuan memprovokasi pihak-pihak tertentu untuk menciptakan fanatisme dan memperluas atau memanajemen konflik.  Terinpirasi dari Docedge Kolkata, dalam mengkaji dampak agresivitas tahun politik 2019,  penulis merasa yakin dan mendapatkan formula dalam menciptakan masyarakat yang rasional dengan membudayakan apresiasi terhadap film dokumenter. Masyarakat  penonton film dokumenter merupakan masyarakat yang rasional karena terbentuk melalui budaya film dokumenter mengapresiasi riset fakta dan informasi dari jarak yang dekat. 

Pertemuan-pertemuan di Docedge Kolkata memberikan kesadaran bahwa semangat film dokumenter adalah semangat audio visual kebenaran. Film dokumenter dapat mengatasi dampak dari penyebaran hoax dan berita-berita bohong lainnya yang mengancam rasionalitas masyarakat.

Dalam ranah apresiasi, penonton film  dokumenter memiliki perbedaan ekspektasi dengan penonton film fiksi. Dunia penuh dengan cerita berbagai konflik berbahan bakar perbedaan ras, agama, kesukuan, atau identitas lainnya. Dalam hal ini, sebuah masyarakat yang telah memiliki tradisi mengapresiasi dan mengkaji  film dokumenter dapat memperkokoh rasionalitas menjadi  anti bodi terhadap setiap potensi berita kebohongan yang tersebar di sekitarnya.

Para penonton bisa jadi duduk di ruang gelap sinema dengan ekspektasi filmnya bermanfaat secara pengetahuan dan estetik dan tentunya ditonton banyak orang sehingga menghasilkan acuan solusi pada akar permasalahan.

I, Poppy sebagai film favorit memberikan kesadaran bagi penulis akan kejenuhan yang melanda masyarakat internasional akibat konflik politik, kebangkrutan ekonomi, dan derita sosial yang berkepanjangan. Ketika menyimak Vivek sang sutradara dalam menyampaikan presentasinya, penulis dapat belajar bahwa pada narasi bunga-bunga Poppy tersebut terdapat banyak potensi cerita yang terhubung pada ruang politik, ekonomi, sosial, secara global.

Docedge Kolkata berakhir pada tanggal 10 Maret. Penulis merasa perlu untuk melihat-lihat Kolkota dari dekat selama dua hari untuk kemudian kembali ke tanah air. Setiba di Bandara Soekarno Hatta pada 13 Maret lalu, penulis tersenyum ketika teringat Supriyo Sen salah satu peserta dari Kolkata yang pada tahun 2017 yang lalu hadir mengisi master class  untuk Eagle Documentary Lab. Ia mengatakan kalimat ini saat kami merayakan malam penutupan di sebuah bar, 

“ International society are bored talk political topic, the people love getting high, Rudi.” 

Siang itu penulis melangkahkan kaki keluar terminal 2 Bandara Soekarno Hatta sambil memesan taxi online. Ketika mobil yang penulis tumpangi menyelusuri jalan tol, penulis  menyadari banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan tepat waktu untuk turut menyumbangkan kerja-kerja dan prestasi  bagi masa depan perfilman dokumenter Indonesia yang lebih baik.

Daniel Rudi Haryanto (Alumni American Film Showcase, Alumni Asia Pacific Screen Lab, Peraih Ditector Guild of Japan Award 2011)

Share this on: