ARTIKEL

Selamat Jalan Baba Akong

Tsunami, kata itu pertama kali saya dalami ketika harus membuat laporan usai mengunjungi Flores yang terkena gempa bumi dan tsunami 12 Desember 1992. Waktu itu saya sebagai wartawan pemula sebuah majalah wanita diberangkatkan ke Flores dalam sebuah rombongan misi kemanusiaan.

Gempa dengan magnitudo sebesar 7,5 SR tidak hanya menghancurkan daerah Maumere,  pesisir utara Flores pun porak poranda diterjang tsunami. Ketika mengitari daerah dengan helikopter, Pulau Babi yang berjarak 5 kilometer di utara Flores habis tersapu gelombang tsunami. Jangankan manusia, rumah bahkan pohon kelapa saja hanya menyisakan tangkainya yang menjulang bagai tonggak kayu semata. Sayangnya, di zaman itu media televisi maupun media elektronik belum semasif berita tsunami di Aceh tahun 2004. Namun bagi penduduk yang terdampak, kata tsunami yang sebelumnya tak pernah dikenal, meninggalkan lubang derita yang begitu panjang.

Trauma tsunami ini rupanya yang mendorong Viktor Emanuel Rayon atau Baba Akong menanam bakau di pesisir Ndete, Flores. Daerah pantai sisa diterjang tsunami itu, mulanya hanya hamparan kosong. Satu demi satu dia malesakkan bibit bakau. Sebuah perjuangan yang meletihkan, karena upayanya tak mendapat dukungan dari penduduk, termasuk sesama pengungsi yang hijrah mendiami pegunungan. Di tahun 2008 hamparan seluas 23 hektar itu mulai menyembulkan belukar bakau.

Adalah kejelian Emanuel Hayon, sutradara dokumenter Prahara Tsunami Bertabur Bakau yang mengangkat perjuangannya dalam proposal untuk dikirimkan ke Eagle Awards Documentary Competition (EADC) di tahun 2008 dengan tema Hijau Indonesiaku. Berhasil mendapatkan beasiswa pembuatan film, dari film inilah Baba Akong akhirnya dikenal dan diundang ke berbagai acara untuk membagikan kisah maupun ilmunya.  Di tahun 2009 Baba Akong bahkan terpilih sebagai Tujuh Pahlawan pilihan Kick Andy.

Berita duka meninggalnya Baba Akong kami baca saat Emanuel Hayom menginformasikan tanggal 10 Maret 2019. Baba Akong telah berpulang, meninggalkan warisan ilmu dan hutan bakau. Wilayah Pantai Mangrove Ndete kini bahkan dikenal sebagai daerah wisata. Selamat jalan Baba Akong, semoga gerakan menanam bakau akan tetap abadi, dilanjutkan oleh generasi penerusmu.   (Bestina Virgiati)   

 

Share this on: